Dalam kancah bola voli internasional, formasi 5-1 tetap menjadi standar emas bagi tim-tim yang mengandalkan kecepatan dan variasi serangan yang kompleks untuk membongkar pertahanan lawan. Banyak ahli berpendapat bahwa formasi satu setter lebih efektif karena memberikan ritme permainan yang jauh lebih konsisten dibandingkan sistem lainnya yang melibatkan dua pengatur serangan. Dengan hanya satu orang yang memegang kendali atas distribusi bola, tingkat pemahaman antara pengumpan dan penyerang menjadi sangat mendalam, memungkinkan terjadinya serangan tempo cepat (quick attack) yang membutuhkan koordinasi waktu dalam hitungan milidetik agar spiker dapat memukul bola saat blok lawan belum siap terpasang.
Kekuatan utama dari sistem ini terletak pada kemudahan spiker untuk mengenali karakter umpan yang diberikan secara terus-menerus. Saat menggunakan formasi satu setter, penyerang tengah dapat membangun koneksi yang sangat intuitif dengan sang pengatur serangan, sehingga umpan-umpan pendek di depan maupun di belakang setter dapat dilakukan dengan tingkat kegagalan yang minimal. Konsistensi ini sangat penting saat tim sedang dalam posisi tertekan, di mana ketenangan dan akurasi setter tunggal menjadi tumpuan bagi rekan setimnya. Selain itu, formasi ini memungkinkan munculnya serangan dari baris belakang (backrow attack) secara lebih rutin, karena setter memiliki gambaran yang jelas mengenai seluruh opsi penyerang yang tersedia di setiap rotasi.
Namun, efektivitas dalam menjalankan formasi satu setter menuntut atlet tersebut untuk memiliki kecerdasan taktis yang luar biasa di atas rata-rata pemain lainnya. Sang setter harus mampu membaca pergerakan blocker lawan dan menentukan penyerang mana yang berada dalam posisi paling menguntungkan dalam sekejap mata. Kelemahan dari sistem ini hanya muncul saat sang setter berada di garis depan, di mana ia harus tetap berkontribusi dalam memblokir serangan lawan tanpa kehilangan fokus untuk mengatur serangan berikutnya. Oleh karena itu, pemilihan pemain untuk posisi ini biasanya sangat selektif, mencari individu yang tidak hanya ahli secara teknis tetapi juga memiliki ketahanan mental dan kepemimpinan yang kuat di lapangan.
Secara strategis, penggunaan formasi satu setter juga mempermudah pelatih dalam melakukan instruksi perubahan taktik di tengah pertandingan. Dengan satu pusat komando di lapangan, perubahan pola serangan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan tersinkronisasi. Tim yang menggunakan sistem ini biasanya memiliki transisi serangan balik yang sangat mematikan karena setter sudah hafal dengan preferensi arah lari setiap spiker tanpa perlu banyak berkomunikasi secara verbal. Di era voli modern yang mengedepankan kecepatan dan efisiensi, penguasaan sistem setter tunggal adalah kunci bagi setiap tim yang ingin bersaing di level tertinggi dan memenangkan gelar juara di berbagai kompetisi bergengsi.