Lomba renang jarak jauh, atau marathon swimming, adalah ujian ekstrem bagi daya tahan fisik dan manajemen energi atlet. Dalam event yang dapat berlangsung berjam-jam, seperti penyeberangan selat atau lomba open water 10 km, sumber energi utama tubuh, yaitu glikogen otot dan hati, akan terkuras habis. Kelelahan yang ekstrem (hitting the wall) seringkali terjadi ketika cadangan ini menipis. Oleh karena itu, strategi utama untuk mencegah kelelahan dini adalah Mengoptimalkan Glikogen Otot melalui manipulasi diet yang cermat, dikenal sebagai carbo-loading. Mengoptimalkan Glikogen Otot secara maksimal memastikan tubuh memiliki simpanan energi yang cukup untuk mempertahankan kecepatan dan daya tahan hingga garis akhir.
Carbo-loading adalah Mengoptimalkan Glikogen Otot yang dilakukan dalam beberapa hari menjelang lomba. Prinsipnya adalah meningkatkan asupan karbohidrat secara drastis sambil mengurangi intensitas latihan. Protokol standar melibatkan fase pengurangan karbohidrat (sambil latihan berat) sekitar seminggu sebelum lomba, diikuti oleh peningkatan asupan karbohidrat super tinggi (sekitar $8-10\text{ gram}$ per kilogram berat badan) dalam tiga hari terakhir menjelang event. Karbohidrat yang dipilih haruslah yang mudah dicerna dan rendah serat, seperti nasi, pasta, dan roti putih, untuk menghindari masalah pencernaan selama lomba. Misalnya, tim medis di ajang World Open Water Championship pada hari Minggu, 14 Juli 2024, mencatat bahwa perenang yang berhasil mencetak waktu terbaik adalah mereka yang mencapai simpanan glikogen di atas $80\%$ dari kapasitas maksimal.
Selain carbo-loading sebelum lomba, strategi nutrisi selama lomba itu sendiri sangat penting. Karena renang marathon dapat berlangsung lebih dari empat jam, glikogen yang tersimpan pasti akan menipis. Atlet harus secara konsisten mengonsumsi karbohidrat cair dan gel energi setiap 30 hingga 45 menit selama berada di air. Asupan ini berfungsi untuk mencegah penurunan gula darah (hipoglikemia) dan secara aktif memberikan glukosa ke otot. Teknik feeding station (stasiun pengisian) yang dilakukan oleh tim support perenang harus efisien, memastikan atlet mengonsumsi 60 hingga 90 gram karbohidrat per jam lomba.
Aspek penting lain dalam Mengoptimalkan Glikogen Otot adalah memastikan atlet tidak mengalami dehidrasi atau ketidakseimbangan elektrolit, yang dapat mempercepat penggunaan glikogen. Cairan yang diberikan selama feeding station harus mengandung elektrolit (terutama natrium) untuk menggantikan kehilangan melalui keringat dan untuk membantu penyerapan glukosa. Tanpa perencanaan yang ketat dan disiplin dalam mengikuti jadwal nutrisi selama lomba, cadangan glikogen akan gagal menopang kebutuhan energi, menyebabkan penurunan tajam dalam performa dan memaksa atlet untuk melambat atau bahkan mengakhiri lomba lebih awal.